Kamis, 28 Oktober 2021 10:59

Berbenah Untuk Menjadi PT Berkelas Dunia

Dua perguruan tinggi (PT) terbesar di Sumatra Barat berubah status dari Badan  Layanan Umum (BLU) menjadi PT Negeri  Badan  Hukum  (PTN  BH). Diawali oleh Universitas Andalas, perubahan status juga diperoleh Universitas Negeri Padang. Perubahan status ini adalah bagian dari usaha pemerintah untuk  memperbaiki  kapasitas PTN dalam meningkatkan  daya  saing  dan  pencapaian  di  tengah  persaingan  global. Otonomi yang lebih luas diberikan demi mempercepat terwujudnya universitas bekelas dunia (world class university-WCU). Namun, untuk menjadi WCU, banyak perubahan yang mesti dilakukan. Universitas harus berbenah dan keluar dari zona nyaman. Usaha-usaha kreativ harus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan. Sebuah universitas masuk kategori WCU karena memiliki keunggulan (excellence) berstandar dunia. Setidaknya ada empat komponen utama dari WCU tersebut: (1) Pengelolaan yang efisien namun produktif, (2) teaching excellence, (3) research excellence, dan (4) lulusan yang berkualitas dunia (Lang, 2004). 

Pembenahan sumber daya manusia (SDM)

SDM yang berkelas dunia (world class staff) adalah fondasi dasar untuk mewujudkan empat komponen utama dari WCU. Teaching excellence dan research excellence tidak mungkin diwujudkan jika SDM tidak mendukung. Pembenahan mesti dilakukan, mulai dari penerimaan, pembinaan dan pengembangan karir dosen dan tenaga kependidikan. PTN-BH memiliki otonomi ketenagakerjaan sehingga pembenahan sangat mungkin. Selama ini, penerimaan dosen masih berdasarkan rasio dosen-mahasiswa. Kondisi ini belum sepenuhnya mampu memberikan SDM terbaik untuk bisa menjadi WCU.

Selain wajib berpendidikan doktor, dosen yang direkrut mesti mampu berkontribusi nyata terhadap universitas, selain mengajar. Universitas mesti merekrut dosen yang sudah jadi, sudah punya kemampuan riset yang berkelas dunia. Dosen hendaknya juga bisa mendatangkan uang bagi universitas melalui kegiatan riset dan lain sebagainya. Selain pertimbangan rasio dosen-mahasiswa, penerimaan dosen juga mesti mempertimbangkan pengembangan riset universitas. Di universitas-universitas maju, penerimaan dosen itu berbasiskan laboratorium atau riset grup. Ada kebutuhan riset, sehingga mereka direkrut. Ketika dosen diterima, jelas afiliasi laboratorium atau riset grupnya. Biasanya dalam riset grup inilah seorang dosen muda akan melalui pembinaan oleh Profesor atau Associate Profesor. Hirarki pembinaan ini layak untuk dicontoh.

Pembenahan riset

Penataan riset perlu dilakukan. Perlu adanya penguatan riset grup di program studi (prodi) sebagaimana diulas di atas. Peta jalan penelitian yang selama ini lebih diarahkan kepada peta jalan individu, perlu ditransformasi menjadi peta jalan riset grup. Kolaborasi antar riset grup dan lintas keilmuan juga perlu lebih digalakkan.

Kolaborasi dengan industri juga sangat penting. Kolaborasi harus ditindaklanjuti dengan kegiatan nyata, tidak hanya sekedar MoU dan pelengkap data akreditasi. Di universitas-universitas maju, peran industri sangatlah besar. Ketika industri ingin membuat sesuatu, mereka akan memintanya ke universitas. Riset grup dengan SDM dan laboratorium yang baik, akan menjadi daya tarik industri tentunya.

Student is your power. Mahasiswa yang bermutu terutama mahasiswa program pascasarjana dan postdoctoral adalah komponen penting dari kegiatan riset di universitas top dunia. Dengan dana riset yang ada, seorang dosen diizinkan untuk merekrut mahasiswa asing dan peneliti postdoctoral. Hal ini melahirkan efek berantai. Selain menggerakkan riset, juga menginternasionalisasi program pascasarjana. Skema riset yang memungkinkan untuk terlaksananya kegiatan ini perlu dipikirkan. 

Hal yang tidak kalah penting adalah melahirkan budaya riset yang bermutu. Riset jangan lagi sekedar pemenuhan beban kerja dosen (BKD) ataupun angka kredit kenaikan pangkat, atau syarat lulus bagi mahasiswa. Kegiatan riset hendaknya juga memberikan kontribusi untuk terwujudnya WCU, peningkatan pendapatan universitas dan bermanfaat bagi masyarakat baik dalam bentuk kegiatan komersial (bisnis) maupun sosial (pengabdian kepada masyarakat).

 Tantangan

Untuk menjadi WCU, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Tanpa dana, WCU akan jadi sebuah retorika saja. “The title of world class won’t come at a discount price, and without world class funding the goal of reaching and preserving that high standard will be rhetoric alone” (Niland, 2000). SDM yang unggul, mesti dibarengi dengan kesejahteraan yang baik. Perubahan-perubahan juga memerlukan dana.

PTN-BH mendapatkan dana dari APBN berupa Bantuan Pendanaan PTNBH. Namun, dana ini belumlah cukup. Kreativitas pengelolah dalam pengembangan sumber pembiayaan sangat diperlukan. Berdasarkan PP No. 8 Tahun 2020, pembiayaan PTN-BH dapat bersumber dari masyarakat, biaya pendidikan, pengelolaan dana abadi, usaha PTN-BH, kerjasama, pengelolaan kekayaan PTN-BH, APBD dan pinjaman. Banyak perguruan tinggi ternama di dunia yang menggunakan konsep dana abadi (endowment). Dana abadi yang dimiliki suatu perguruan tinggi dapat diinvestasikan. Hasil investasinya inilah yang boleh digunakan. Misalnya, Universitas Yale mempunyai dana abadi sebesar $31.2 miliar pada 30 Juni 2020, yang dikelolah oleh Yale Investments Office. Di Indonesia, dana abadi yang dikelolah perguruan tinggi juga cukup besar, seperti yang dimiliki UI dan ITB.

Universitas perlu mengidentifikasi riset-riset yang berpotensi untuk komersialisasi, dan diwadahi dalam bentuk Pusat Unggulan Inovasi (PUI) atau lembaga sejenis. Secara praktek bisnis, hasil dari PUI dapat ditangani oleh Badan Pelaksana Usaha (BPU) atau lembaga sejenis lainnya. Semua hal ini mesti dirumuskan dengan baik dalam Rencana Pengembangan Bisnis Non-Akademik dan dalam perancangan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) universitas.

Selain komersialiasi hasil riset, layanan pengukuran di laboratorium riset juga bisa menjadi sumber keuangan universitas. Pembenahan laboratorium memiliki efek berantai. Selain sumber pendapatan universitas, laboratorium juga akan menguatkan riset dan pembelajaran. Laboratoirium ini adalah bisnis yang konsumennya jelas. Sayang sekali, banyak universitas yang kurang memperhatikan ini. Dosen dan mahasiswa dibiarkan ke institusi lain untuk melakukan pengukuran. Pengadaan alat-alat labor yang berbiaya tinggi, dapat dilakukan tanpa membebani universitas. Sistem kerjasama seperti bagi hasil bisa menjadi pilihan.

Efisiensi pengelolaan universitas tidak kalah pentingnya. Efisiensi mesti dilakukan di semua lini. Walaupun PT diberikan otonomi dalam pengaturan struktur organisasi, namun SOTK PTN BH hendaklah efektiv dan efisien, jangan gendut. Peningkatan pemanfaatan ICT yang handal dalam semua kegiatan mestinya dapat merampingkan SOTK universitas.

Apapun pilihan yang diambil dalam menghadapai tantangan pendanaan, jangan sampai status PTN-BH menyebabkan biaya kuliah meningkat. Otonomi yang dimiliki mesti digunakan untuk melahirkan kreativitas, tanpa membebani mahasiswa. Memang, menuju WCU bukan pekerjaan yang mudah. Pencapaian tersebut membutuhkan kerja amat keras, komitmen yang tinggi dari banyak pihak, dan dana yang tidak sedikit. Namun, hal itu menjadi mungkin dilakukan jika semua konsisten dan kompak. Dukungan semua sivitas akademika sangat diperlukan.

Penulis: Dr. techn. Marzuki, Dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas

Sumber tulisan: Teras Utama Koran Padek (27/10/2021)

 

Sabtu, 25 April 2020 12:18

Cuaca dan Masa Depan Covid-19

(Padang-Padek) Penyebaran Covid-19 belum terhentikan dan masih menghantui negara-negara di dunia. Hampir tidak ada negara yang tidak dikenai virus ini. Berawal dengan nama pneumonia (radang paru-paru) Wuhan yang dilaporkan ke WHO pada 31/12/2019, kasus ini terus tumbuh dan membesar, hingga akhirnya pada 11 Februari 2020 resmi diberi nama Covid-19.

Penyakit ini seakan tidak terbendung dan terus menyebar dan mencapai kategori pandemi pada Rabu (11/3/2020). Alih-alih berkurang, kasus Covid-19 justru semakin melonjak di Eropa dan Amerika Serikat. Covid-19 telah menjadi sebagai salah satu wabah yang merajalela di tingkat dunia setelah virus ebola, flu babi, sindrom pernafasan akut (SARS), flu spanyol dan kolera. Hingga Sabtu (18/4) sekitar 213 negara telah mencatat penyakit ini dengan total kematian hampir 140 ribu jiwa.

Kapan Covid-19 Berakhir?

Tidak ada yang bisa memastikan kapan pandemi ini akan berakhir. Agak sulit melihat masa depan Covid-19 karena banyaknya variabel yang belum betul-betul dipahami. Pendugaan bisa saja dilakukan dengan menggunakan pemodelan matematis. Namun, Covid-19 sangat erat hubungannya dengan perilaku manusia dan hal itu sangat sulit dimodelkan oleh model epidemiologis. Proyeksi dari model selalu mengalami perubahan karena berubahnya perilaku manusia.

Pendekatan statistik dengan membuat proyeksi dari tren saat ini merupakan salah satu cara untuk menduga pergerakan Covid-19. Ketidaktersediaan data yang betul-betul ideal juga menyulitkan dalam mengembangkan sebuah proyeksi yang akurat. Berbagai proyeksi dibuat dengan mengasumsikan beberapa skenario. Tidak ada yang bisa memastikan proyeksi mana yang betul tetapi setidaknya hal itu sangat membantu otoritas berwenang dalam merumuskan kebijakan, model mengabari mereka bahwa hal buruk bisa saja terjadi.

Banyaknya prakiraan terkait dengan Covid-19 dengan informasi yang berbeda-beda bisa membingungkan masyarakat, terutama yang awam tentang penyakit ini. Kesimpangsiuran prakiraan ini mungkin bisa dikurangi dengan mengambil pelajaran dari prakiraan cuaca. Awalnya, prakiraan cuaca juga memiliki tingkat akurasi yang rendah. Namun, seiring bertambahnya jumlah titik pengamatan dan adanya lembaga resmi yang menangani prakiraan ini sehingga pengembangan model prakiraan terpusat, maka akurasi prakiraan cuaca menjadi lebih baik. Bahkan, hari ini model cuaca sudah bisa memperkirakan arah pergerakan badai dengan baik di mana hal ini dipandang sangat sulit dahulunya. Jadi, pembentukan sebuah lembaga resmi yang menangani pemodelan penyakit menular seperti Covid-19 ini, kemungkinan dapat menghasilkan model yang lebih baik. Dari lembaga ini proyeksi wabah ini bisa dikeluarkan, sebagaimana hanya BMKG yang diberi hak untuk mengeluarkan prakiraan cuaca ke publik.

Coba kita bayangkan jika banyak otoritas yang bisa bicara di media terkait dengan prakiraan cuaca. Ngerinya lagi, jika yang bicara itu bukan ahlinya. Sentralisasi pemodelan penyakit menular bukan berarti mematikan kebebasan akademik, karena pusat ramalan bisa melibatkan universitas dan institusi lain. Selain itu, riset-riset yang berkaitan peramalan di luar lembaga ini tetap dapat dilakukan sebagaimana halnya berkaitan dengan prakiraan cuaca, tetapi penyampaian ke publik dilakukan oleh satu lembaga sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Cuaca dan Akhir Covid-19

Masih belum tampaknya akhir dari Covid-19, menimbulkan beberapa spekulasi. Pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi soal cuaca panas membunuh virus corona menuai tanda tanya. Sebetulnya dia tidak sendirian, Presiden AS juga melontarkan hal yang hampir sama jauh sebelum itu. Sepintas apa yang disampaikan ada benarnya. Badai flu biasanya memang terjadi pada musim dingin. Setidaknya ada tiga alasan penyebabnya. Pertama, virus lebih stabil pada musim dingin, saat udara kering degan kandungan UV yang rendah. Kedua, pada cuaca dingin, orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan sehingga potensi mereka berkerumun lebih tinggi. Ketiga, imun kita bisa lebih lemah selama musim dingin akibat kekurangan vitamin D disebabkan berkurangnya sinar matahari. Jadi, secara teori demikian, apakah hal itu akan berlaku untuk Covid-19?

Entahlah! Hingga hari ini hasil penelitian terkait pengaruh cuaca terhadap penyebaran Covid-19 masih beragam. Hasil penelitian terkait kasus Covid-19 di China memperlihatkan bahwa untuk kenaikan temperatur 1°C, jumlah kasus korona virus menurun 36% – 57% untuk kelembaban 67%-85.5%. Selain itu, untuk setiap kenaikan kelembaban 1% jumlah kasus menurun sekitar 11%-22% ketika temperatur rata-rata sekitar 5°C-8.2°C. Hal ini sebagaimana dilaporkan oleh peneliti dari Universitas Fudan yang diterbitkan pada jurnal medRxiv (30/3/2020). Hasil ini dikuatkan oleh Dr Jingyuan Wang dari Universitas Beihang dalam tulisannya di jurnal SSRN. Dia menemukan kenaikan temperatur dan kelembaban bisa memperlambat penyebaran walaupun tingkat penularan masih tinggi dalam kondisi ini. Pengaruh cuaca terhadap Covid-19 untuk cakupan wilayah yang lebih luas diteliti oleh tim dari Universitas Milan (medRxiv 31 Maret 2020). Mereka menguji 123 negara dan mendapati hasil yang mendukung temuan sebelumnya.

Kesimpulan berbeda didapatkan oleh beberapa peneliti lain. National Academy of Sciences, Engineering, and Medicine dalam laporannya (7/4/2020) mengingatkan perlunya kehati-hatian ketika menafsirkan hasil penelitian yang mengatakan adanya hubungan antara cuaca dan Covid-19 Hal ini berkaitan dengan kualitas data yang digunakan, terutama jumlah dan periode data yang sangat terbatas.

Walaupun banyak peneliti yang memperlihatkan adanya hubungan cuaca dengan penyebaran virus korona di Cina, tetapi terdapat juga hasil yang berlawanan. Hasil penelitian yang diterbitkan jurnal medRxiv (02/2020) melaporkan bahwa perubahan cuaca saja tidak akan serta merta menyebabkan penurunan jumlah kasus Covid-19 tanpa adanya intervensi kesehatan masyarakat yang luas. Pengujian dilakukan dengan membandingkan perubahan cuaca antar provinsi di China dengan jumlah kasus di propinsi tersebut. Untuk skala yang lebih luas, tim peneliti Universitas Oxford sebagaimana yang diterbitkan jurnal medRxiv (31/3/2020) menganalisa data 310 daerah dari 116 negara dan menemukan hubungan yang berkebalikan antara temperatur dan kelembaban dengan kemunculan virus korona.

Nah, terkait pengaruh cuaca ini masih belum ada satu kesimpulan. Anda pilih yang mana? Jika kita coba kompromikan hasil penelitian yang ada, penyebaran Covid-19 dipengaruhi oleh banyak faktor dan salah satunya adalah cuaca terutama temperatur dan kelembaban. Namun, selain faktor geografi tersebut, masih banyak faktor lain seperti kualitas dan tingkat akses fasilitas kesehatan, kepadatan penduduk, pola perilaku masyarakat, intervensi pemerintah, dan lain sebagainya. Namun, apa yang belum ada saat ini adalah seberapa besar kontribusi dari masing-masing faktor ini dalam penyebaran Covid-19. Kebanyakan penelitian yang ada menguji beberapa faktor dan mengabaikan faktor lain sehingga tidak didapatkan tingkat peran yang adil bagi semua faktor.

Kita tentunya berharap bahwa cuaca memberikan kontribusi terhadap penurunan penularan Covid-19, namun kita tidak bisa menaruh harapan besar pada hal itu. Covid-19 saat ini telah menyebar hampir di seluruh belahan dunia dengan aneka ragam temperatur. Andaikan Covid-19 memperlihatkan pola musiman sebagaimana flu lain akibat faktor cuaca, tetapi cuaca di daerah kita terutama temperatur dan kelembaban hampir tidak bervariasi secara signifikan sepanjang tahun. Peneliti dari Universitas Maryland sebagaimana diterbitkan jurnal SSRN (9/3/2020) menemukan rata-rata temperatur 5-11°C merupakan temperatur yang paling kondusif untuk penyebaran virus korona, dengan kelembaban relatif 47-79%. Daerah yang diteliti adalah kawasan lintang menengah (30-50° lintang utara). Anggaplah ini benar dan berlaku untuk semua lintang, saat ini dimana sebagain wilayah kita sedang musim hujan, temperatur rata-rata udara kita masih berada di atas temperatur tersebut, tetapi kita mengalami tingkat penyebaran virus corona sangat tinggi. Selain itu, intensitas sinar matahari yang dikaitkan dengan imunitas, juga tidak bervariasi secara signifikan sepanjang tahun. Jadi, bulan-bulan kering dengan curah hujan yang lebih rendah di Sumbar, yang akan masuk pada bulan Juni, janganlah menjadi tumpuan kita dalam mengatasi penyebaran Covid-19. Cuaca yang lebih hangat mungkin saja memperlambat penyebaran Covid-19, tetapi yang pasti tidak akan menghentikannya. Kita tetap harus serius melaksanakan physical distancing dan usaha lainnya untuk menekan penyebaran virus ini. (*)

Penulis: *Dr Techn Marzuki – Dosen Fisika Atmosfir, Jurusan Fisika FMIPA/Wakil Dekan 1 FMIPA Universitas Andalas

Sumber: Koran Padek (23/04/2020)

(Padang-Fisika Unand) Dari 7 tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Jurusan Fisika Universitas Andalas (UNAND) yang didanai Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan tahun 2017, satu tim berhasil lolos ke  Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Satu tim lolos yang melaju ke PIMNAS ke-30 yang akan dihelat di Universitas Muslim Indonesia, Makasar pada 23-28 Agustus 2017 mendatang, diketuai oleh Fadli Nauval dengan anggota Ovandriyove dan Meri Yoseva. PKM yang akan ke PIMNAS ini berjudul “Estimasi Atenuasi Gelombang Elektromagnetik oleh Hujan Di Indonesia Untuk Pita Frekuensi Ku, Ka, dan W Berdasarkan Pengamatan Distribusi Butiran Hujan” dengan pembimbing Dr. techn. Marzuki yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Fisika Unand .

(Padang-Fisika Unand)-Kesepakan Paris atau Paris Agreement (PA)  adalah sebuah kesepakatan mengenai perubahan iklim yang dihasilkan selama negosiasi iklim ke 21 (COP 21) dari Konvensi Kerangka Kerja PBB Untuk Perubahan iklim (The United Nations Framework Convention on Climate Change-UNFCCC) yang  berlangsung di Paris dari 30 November hingga 13 Desember 2015. Pertemuan Paris merupakan pertemuan bersejarah yang menghasilkan kesepakatan pertama yang mengikat (legally binding) sejak Protokol Kyoto yang lahir pada COP ke 3. Kesepakatan akan mengikat secara hukum jika diratifikasi setidaknya oleh 55 negara yang mewakili 55 persen emisi gas rumah kaca global tahunan. Berdasarkan laman UNFCCC, pada tanggal 5 Oktober 2016, ambang batas untuk mulai berlakunya PA telah tercapai.

Info Penting

Certificate of Webinar "Trik Sukses Menjelajahi Eropa dengan Beasiswa" Click Here
Toggle Bar