Items filtered by date: Rabu, 12 April 2017
12 April 2017 In Prestasi Dosen & Mahasiswa

(Padang-Fisika Unand)-Ketua Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Andalas (UNAND), Dr. techn. Marzuki, mendapat kehormatan untuk menjadi pembicara pada acara yang digelar di STKIP PGRI Sumatera Barat. Kali ini, Kajur Fisika ini diundang menjadi pembicara pada kuliah umum yang dilaksanakan oleh Prodi Pendidikan Fisika STKIP PGRI. Permohonan disampaikan pihak SKTIP melalui surat No: 042/PFIS/STKIP-PGRI/2017 yang ditandatangani oleh Kaprodi, Ibu Dra. Hj. Husna, M.Si.

Kuliah umum dilaksanakan pada tanggal 12 April 2017 dari pukul 08:00 Wib s/d 11:00 Wib di Aula STKIP PGRI. Dr. Zusmelia, M.Si. Wakil Ketua Bidang Akademik STKIP PGRI dalam kata sambutannya menyambut baik kegiatan ini. Kuliah umum merupakan salah satu program rutin di STKIP PGRI dalam rangka meningkatkan kemampuan mahasiswa. Mahasiswa harus mendapatkan ilmu pengetahun dari berbagai sumber, tidak hanya dari dosen mereka, demikian imbuh  Dr. Zusmelia, M.Si yang juga merupakan alumni UNAND. Fakultas MIPA UNAND telah menjalin Kerjasama dengan STKIP PGRI Sumbar, dalam bentuk sebuah MoU yang ditandatangai tanggal 01 Februari 2016. Dengan sumber daya yang lebih baik, Dr. Zusmelia, M.Si mengharapkan agar MoU yang ada dapat terimplementasi secara lebih luas, salah satunya dalam bentuk kuliah tamu.

 

Kuliah tamu yang berlangsung sekitar tiga jam, mengangkat tema "Atmosfir Kita, antara Peluang dan Tantangan". Ada dua hal utama yang dijelaskan oleh Dr. techn. Marzuki: Pertama, keunikan dari atmosfir Indonesia yang tidak dimiliki oleh atmosfer dari negara lain di dunia. Dalam hal ini beliau memaparkan tentang lokasi Indonesia, karakteristik pulau dan faktor-faktor global yang mempengaruhi Indonesia. Kedua, alasan kenapa atmosfir (cuaca) kita tidak terprediksi dengan baik. Beliau mengurai setidaknya ada dua penyebab utama. Masalah utama adalah bahwa atmosfir kita sangat unik sehingga tidak bisa dimodelkan (diprediksi) dengan model standar yang ada. Hujan yang terjadi di Indonesia terjadi dalam skala yang jauh lebih kecil dari yang mampu diprediksi oleh model yang ada. Hujan-hujan lokal dalam radius kurang dari 10 km sering terjadi. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi model yang ada sehingga mampu memodelkan keunikan atmosfir kita. Masalah kedua adalah data pengamatan di Indonesia yang masih minim dibandingkan dengan negara-negara maju. Sebuah model yang baik jika tidak didukung oleh input data yang baik juga tidak menghasilkan prediksi yang akurat. Apa lagi atmosfir yang bersifat "chaos", sedikit saja error yang terjadi akan  menimbulkan error prediksi yang besar. Selain pengamatan permukaan, radar cuaca yang ada di Indonesia sudah saaatnya harus dilengkapi dan di tingkatkan teknologinya. Radar dengan teknologi polarisasi tunggal saatnya diganti dengan dual polarisasi yang jauh lebih akurat. Selain itu, negara-negara maju sudah mulai mengembangkan Multi-Function Phased Array Radar (MPAR). MPAR akan mampu mendeteksi semua target baik hujan, pesawat dan lain sebaigainya sehingga jumlah radar yang ada di dunia dapat diminalisir jumlahnya.

Atmosfir kita yang unik, tidak bisa diamati dan dimodelkan dengan cara standar. Kita harus bisa menjadikan hal ini peluang bagi kita, mengembangkan sistem pengamatan dan pemodelan yang dapat mengati atmosfir kita dengan lebih akurat. Dengan demikian, kita dapat meminimalisir dampak bencana atmosfir yang akan terjadi. (Mz).