Kajur Fisika Dr. techn Marzuki Menjadi Delegasi Indonesia di Pertemuan Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC)

Padang (Fisika-Unand)-Ketua Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas (UNAND), Dr. techn. Marzuki mendapat kehormatan untuk menjadi delegasi Indonesia pada penyusunan outline (scoping meeting) laporan kajian ke-enam (Sixth Assessment Report-AR6) dari Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC). Kegiatan bergengsi di bidang perubahan iklim ini dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 1-5 Mei 2017 di Kantor Pusat United Nations Economic Commission for Africa (UNECA) di Addis Ababa, Etopia.

IPCC adalah sebuah badan internasional yang mengkaji aspek ilmiah terkait dengan perubahan iklim. IPCC dibentuk pada tahun 1988 oleh World Meteorological Organization (Badan Meteorogi International/WMO) dan United Nations Environment Program (Badan Lingkungan PBB/UNEP) untuk memberikan kajian yang berkala mengenai aspek ilmiah dari perubahan iklim, dampak dan resiko-resiko di masa mendatang, serta pilihan-pilihan kegiatan mitigasi dan adaptasi atas perubahan iklim. Anggota IPCC terbuka untuk semua negara yang menjadi anggota WMO dan PBB.

IPCC memiliki tiga Working Group (Kelompok Kerja) atau disingkat WG. WG1 menyusun laporan Physical Science Basis, dan laporan terakhir (laporan kajian ke-lima-AR5)  telah dirilis pada tanggal 27 September 2013 dalam bentuk Summary for Policy Maker (Ringkasan untuk Pembuat Kebijakan) dan versi laporan lengkap pada tanggal 30 September 2013. Working Group 2 (WG2) mengkaji dampak, kerentanan dan adaptasi. Working Group 3 (WG3) mengkaji pilihan mitigasi. Temuan dari ketiga WG akan dirangkum dalam satu laporan yang dinamai Synthesis Report.

Dari laporan IPCC ke-lima (AR5), para ahli yakin, dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi (95-100%), bahwa perubahan iklim yang terjadi sejak 1950-an didominasi oleh aktivitas manusia. Keyakinan ini meningkat dari laporan IPCC di tahun 2007 (90-95%), dan meningkat drastis daripada laporan IPCC tahun 2001. Dengan adanya konsensus yang lebih besar diantara para ahli, perdebatan bahwa apakah perubahan iklim nyata atau tidak, hampir tidak lagi ada. Hasil laporan IPCC ke-lima (AR5) telah mendorong lahirnya Kesepakatan Paris (Paris Agreement) antar kepala negara pada kegiatan United Nations Climate Change Conference tahun 2015 atau COP 21, di Paris.

Sebagai badan internasional yang mengkaji aspek ilmiah terkait dengan perubahan iklim, IPCC secara terus menerus melakukan asesmen terhadap perubahan iklim. Sixth Assessment Report (AR6) scoping meeting yang diikuti Dr. techn. Marzuki di Addis Ababa adalah tahap awal dari penyusunan Laporan ke-enam (AR6) IPCC. Sebagai ahli di bidang Fisika Atmosfir, Dr. techn. Marzuki tergabung dengan ilmuan lain di dalam WG1 yang bertanggungjawab menyusun outline kajian ilmiah dari sistim dan perubahan iklim (Physical Science Basis). Dr. techn. Marzuki merupakan 60 ilmuwan yang terpilih dari 600 pelamar dari seluruh negara di dunia. Hal ini adalah kebanggaan bagi Universitas Andalas. Pada semua dokumen dalam acara ini, tertulis afiliasi Universitas Andalas, demikian imbuh Dr. techn. Marzuki.

Laporan ke-enam (AR6) IPCC ditargetkan selesai pada tahun 2020. Setelah outline disusun di Addis Ababa, outline akan dikirimkan ke semua negara di dunia, untuk mendapatkan masukan dari semua pembuat kebijakan. Kemudian, outline akan disidangkan kembali oleh IPCC dan jika telah diterima dan disahkan, maka akan dilakukan seleksi calon penulis. Laporan ke-6 (AR6) bagian Physical Basis Science ditargetkan lebih pendek dari AR5. Sebagai informasi, Laporan WG-1 dari AR5 terdiri dari 14 bab, dihasilkan secara kolaborasi oleh lebih dari 209 ilmuwan sebagai penulis utama (lead author) dan 50 editor pengkaji dari 35 negara. Lebih dari 9200 publikasi ilmiah dikutip oleh laporan ini. Sebagaimana standar proses laporan IPCC, laporan ini telah melalui proses pra-naskah hingga naskah akhir dengan kajian peer-re-view secara bertahap dari puluhan bahkan ratusan ahli untuk memastikan tingkat akurasi dan ketelitiannya. Walaupun AR6 direncanakan lebih pendek, kontribusi dari banyak ilmuwan dunia tetap akan dibutuhkan. Semoga ilmuwan Indonesia terutama UNAND  banyak terlibat dalam penulisan AR6. [Ln/Mz]

Read 341 times Last modified on Jumat, 05 Mei 2017 01:31